Jesus

Amsal 1:7
Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

MERINGKAS  ILMU  SOSIAL  DASAR

D

I

S

U

S

U

N

YESA YEMIMA BR S

100802073

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

DEPARTEMEN KIMIA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

I.Latar Belakang Ilmu Sosial Dasar

Sesudah Indonesia merdeka dan masyarakat indonesia sudah melalui kritis menentukan arah kebijakan negaranya, maka para cendikiawan Indonesia mulai melakukan kritik terhadap sistem pendidikan yang berlaku selama ini. Dalam penelitian mereka, ditemukan bahwa sistem pendidikan Indonesiaadalah warisan sitem pendidikan Belanda yakni kelanjutan dari politik balas budi (Etische Politik) yang merupakan ajaran “Condrad Theodore Van Deventer” yang bertujuan menghasilkan tenaga-tenaga trampil menjadi tukang-tukang yang mengisi birokrasi mereka di bidang administrasi, bidang tehnik dan yang lainnya, dengan tujuan eksploitasi kekayaan negara Indonesia untuk keuntungan dan kepentingan pihak kolonial Belanda. Kenyataan saat ini dirasakan banyak tenaga ahli(sarjana) yang memiliki pengetahuan dan keahlian khusus serta mendalam (spesialisasi), tetapi mereka kurang memiliki wawasan luas. Padahal sumbangan pemikiran (buah pikiran) dan komunikasi ilmiah antar disiplin ilmu sangat diperlukan dalam memecahkan berbagai  masalah sosial masyarakat yang demikian kompleks. Karena bisa terjadi suatu masalah merasa telah tuntas pemecahannya menurut suatu disiplin ilmu tertentu, ternyata belum terpecahkan menurut disiplin ilmu lain dan bisa merupakan masalah besar.

            Masyrakat menganggap perguruan tinggi seolah-olah menara gading yang menghasilkan sarjana-sarjana yang kurang peka terhadap situasi dan kondisi masyarakat, kebutuhan dan perkembangannya, karena itulah para cendikiawan memberikan mata kuliah ilmu sosial dasar sebagai pembentuk dan pelengkap sarjana paripurna dan untuk mengatasi kegusaran merka terhadap sarjana yang dihasilkan. Oleh sebab itu dalam kritikan hasilk penelitian dari pakar, mereka menharapkan agar para sarjana  maupun calon sarjana di Indonesia  di Indonesia memiliki beberapa kemampuan yaitu personal, akademik, profesional, enterpreneurship dan jiwa sosial.

II. Ilmu Sosial Dasar dan MMB (Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat)

Ilmu sosial dasar bukan merupakan pengantar suatu bidang keahlian (disiplin ilmu sosial tertentu) seperti pengantar ilmu politik, sosiologi dan lain-lain. Tetapi ilmu sosial dasar menggunakan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang kehlian untuk menanggapi  masalah-masalah sosial khususnya masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, denagn demikian ilmu sosial dasar menggunakan fakta, konsep dan teori berbagai ilmu sosial dalam memahami masalah sosial dalam masyarakat Indonesia.

            Tujuan mata kuliah berkehidupan bermasyarakat diatas; mata kuliah ilmu sosial dasar yang merupakan mata kuliah berkehidupan bermasyarakat memiliki spesifikasi, yakni bertujuan untuk menghasilkan warga negara Sarjana Indonesia yang berkualitas yakni:

● Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya dan memiliki toleransi terhadap peemeluk agama lain.

        ● Memiliki wawasan sejarah perjuangan bangsa sehingga dapat memperkuat semangat   kebangsaan, mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, mempertinggi kebanggaan nasional dan kemanusiaan sebagai Sarjana Indonesia.

 ● Berjiwa pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya, mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi yang mendahulukan kepenntingan nasional dan kemanusiaan sebagai Sarjana Indonesia.

● Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama mampu berperan serta meningkatkan kualitasnya, maupun tentanglingkungan alam  dan secara bersama-sama berperan serta di dalam pelestariaanya.

● Memiliki wawasan komperehensif dan pendekatan integral di dalam menyingkapi permasalahan kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, pertahanan keamanan, kebudayaan maupun hukum.

          Tujuan ilmu sosial dasar antara lain, mengembangkan kesadaran calon sarjana menguasai pengetahuan tentang kenekaragaman dan kesederajatan manusia sebagai individu dan mahkluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat danmenimbulkan sikap kritis,peka dan arif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT

 

I.Pengertian Individu

Individu berasal dari bahasa latinn yakni individium artinya yang tidak terbagi atau satu kesatuan yang paling kecil (tidak untuk manusia).

Individu memiliki tiga kemungkinanbertingkah laku antara lain:

1. Menyimpang dari norma kolektif

2. Kehidupan individualistis

3. Takluk kepada kolektif

2.Keluarga

Keluarga adalah kelompok primer yang paling penting dalam suatu masyarakat.

Latar belakang membentuk keluarga:

● Sigmund Freud (dorongan seks)

● Adler (karena kekuasaan)

● Kihajar Dewantara (saling memuliakan)

 

4. Masyarakat

Goston Bonthoul sebagaimana yang di ungkapkan oleh Prof. Mahadi,SH dalam “Diktat Kuliah Sosiologi” membedakan dua macam segi pengertian masyarakat, yang segi pertama yang menunjuk kepada corak lahir, dan kedua yang memperlihatkan segi luar dan dalam, untuk mana beliau mempergunakan kata-kata yaitu “I’exterieur” dan “I’interieur”.

Kerangka pendapat Gordon, dijelaskan oleh Prof. Mahadi,SH kedalam suatu skema sebagai berikut:

SEGI DALAM MEMPUNYAI DUA SUSUNAN

MASYARAKAT

SEGI LUAR

DILIRIK SECARA GEOGRAFIS

SUSUNAN FUNGSIONAL

SUSUNAN  MENTAL

HIERARKI DAN PEMBAGIAN KERJA

PERHUBUNGAN MATERIL

PERHUBUNGAN PSIKOLOGIS

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar: Skema pendapat Gordon Bonthoul tentang masyarakat.

Sedangkan kerangka Prof Mahadi,SH memperluas kerangka Gordon diatas mengemukakan skema yang lain sebagai berikut:

MASYARAKAT

SEGI LUAR

SEGI DALAM

TEMPAT YANG LOGIS

ORGANISASI PERHUBUNGAN MATERIL

SEGI PSIKOLOGIS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MASYARAKAT INDONESIA SEBAGAI MASYARAKAT MAJEMUK

Istilah masyarakat majemuk tampaknya belum begitu banyak dipergunakan, apabila dibandingkan dengan istilah masyarakat pluralistik yang berasal dari kata “pluralisme”. Secara tradisional istilah tersebut dipergunakan untuk menggambarkan suatu sistem politik tertentu yang dipelukan di dalam negara yang kompleks untuk menerapkan demokrasi.

          Menurut Prof. Selo Soemarjan sesuai dengan taraf struktural sosial dan kebudayaan, maka akan dapat dijumpai paling sedikit tiga kategori masyarakat di Indonesia yakni masyarakat sederhana, masyarakat madya dan masyarakat pra moden atau masyarakat modern.

          Adapun ciri-ciri utama dari masyarakat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Masyarakat Sederhana
  • Hubungan dalam keluarga dan dalam masyarakat setempat sangat kuat
  • Organisasi sosial pada pokoknya didasarkan atas adat istiadat yang terbentuk menurut tradisi
  • Kepercayaan kuat pada kekuatan-kekuatan gaib yang mempengaruhi kehidupan manusia, akan tetapi tidak dapat dikuasai olehnya
  • Tidak ada lembaga-lembaga khusus untuk memberi pendidikan dalam bidang teknologi; ketrampilan diwariskan oleh orang tua kepada anak sambil berpraktek dengan sedikit teori dan pengalaman, dan tidak dari hasil pemikiran atau eksprimen
  • Tingkat buta huruf relatif tinggi
  • Hukum yang berlaku tidak tertulis, tidak kompleks dan pokok-pokoknya diketahui dan dipahami oleh  hampir semua warga masyarakat yang sudah dewasa
  • Ekonominya sebagian besar meliputi produksi untuk keperluan keluarga sendiri atau untuk pasaran kecil setempat, sedangkan ua

ng sebagai alat penukar dan alat pengukur harga berperan secara terbatas sekali

 

  1. Masyarakat Madya
  • Hubungan dalam keluarga tetap kuat, akan tetapi hubungan dalam masyarakat setempat sudah mulai mengendur dan menunjukkan gejala-gejala hubungan atas dasar perhitungan ekonomi
  • Adat-istiadat masih di hormati, akan tetapi sikap masyarakat mulai terbuka bagi pengaruh dari luar
  • Dengan timbulnya rasionalistas dalam cara berpikir maka kepercayaan pada kekuatan-kekuatan gaib baru timbul apabila orang sudah kehabisan akal untuk menanggulangi sesuatu masalah
  • Didalam masyarakat timbul lembaga-lembaga pendidikan formal sampai tingkat sekolah lanjutan pertama, akan tetapi masih jarang sekali adanya lembaga pendidikan ketrampilan atau kejuruan
  1. Masyarakat Pra-Modern/Modern
  • Hubungan antar mannusia terutama didasarkan atas kepentingan-kepentingan pribadi
  • Hubungan dengan masyarakat lain  dilakukan secara terbuka dalam suasana saling pengaruh mempengaruhi kecuali (mungkin) dalam penjagaan rahasia penemuan baru

senantiasa meningkatkan kesejahteraan masyarakat

  • Masyarakat tergolong-golong menurut bermacam-macam profesi serta keahlian yang masing-masing dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga-lembaga pendidikan ketrampilan dan kejuruan
  • Tingkat pendidikan formal adalah tinggi dan merata
  • Hukum yang berlaku pada pokoknya hukum tertulis yanng sangat kompleks
  • Ekonomi hampir seluruhnya merupakan ekonomi  pasaran yang didasarkan atas penggunaan uang dan alat-alat pembayaran lain

 

 

  

 

 

 

 

 

BAB III

MASALAH-MASALAH SOSIAL DAN

MASALAH-MASALAH SOSIAL BUDAYA

 

Sesungguhnya masalah sosial adalah yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri karena masalah-masalah sosial terwujud sebagai hasil dari kebudayaan manusia, sebagai akibat dari hubungan-hubungannya serta tingkah lakunya dengan sesama manusia lainnya.

            Masalah sosial sebagai produk manusia tidak mungkin enyap selama manusia masih ada dan hidup di permukaan bumi. Oleh karena itu penghayalan kita terhadap masalah-masalah sosial itu perlu di pupuk terus.

            Untuk masalah sosial dapat dilakukan dua pendefinisian yaitu menurut umum dan para ahli. Pendefinnisian oleh umum lainnya adalah bahwa segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum adalah masalah sosial. Contoh ya: kejahatan yang akhir-akhir ini meningkat di kota dan pedesaan di Indonesia. Sedangkan yang kedua adalah definisi yang dikemukakan oleh para ahli yang pada dasarnnya mengemukakan masalah sosial adalah satu kondisi atau perhubungan yang terwujud  dalam masyarakat (yang berdasarkan atas studi mereka) mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap masyarakat secara keseluruhan. Contoh : masalah pedagang kaki lima di kota besar di Indonesia.

            Dalam hubungan ini, Nisbet mengemukakan bahwa yang membedakan masalah sosial dengan masalah lainnya adalah masalah sosial selalu ada kaitannya dengan nilai moral dan pranata sosial serta hubungan manusia dalam konteks normatif dimana hubungan manusia itu terwujud.

 

 

Perilaku Menyimpang

Suatu tindakan manusia yang bertentangan dengan nilai dan norma sosial akan menimbulkan berbagai masalah yang menghambat perkembangan nilai dan norma tersebut. Perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat ini disebut “perilaku menyimpang”.

            Perilaku menyimpang dapat dibedakan berdasarkan sifat dan perilakunya, berdasarkan sifat dan perilakunya, berdasarkan sifatnya perilaku menyimpangdibagi atas penyimpangan primer dan sekunder, dan pelakunya dapat terjadi secara individu maupun kelompok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESAMAAN DERAJAT DAN STRATIFIKASI  SOSIAL

Istilah stratifikasi sosial berasal dari kata strata (jamaknya stratum), artinya pelaisan. Sistem yang berlapis-lapis dapat ditemukan dalam setiap masyarakat, apakah masyarakat itu kapitalis, masyarakat demokrasi, masyarakat komunis, masyrakat primitif dan seterusnya.

          Sistem pelapisan sosial ini telah dibicarakan filsuf Yunani Aristoteles, yang menyatakan bahwa dalam tiap negara terdapat tiga lapisan yakni mereka yang kaya (lapisan kaya), mereka yang termasuk kelas yang melarat (lapisan miskin) dan mereka yang berada ditengah-tengahnya (lapisan menengah).

          Perpindahan dari satu lapisan ke lapisan lain dinamakan mobilitas sosial (social mobility). Jadi mobilitas sosial yaitu perpindahan dari satu stratifikasi ke satu stratifikasi lain. Hal itu dapat terlihat pada masyarakat modern atau demokrasi dengan adanya “arus bebas” yaitu orang dari satu stratifikasi dapat berpindah  ke stratifikasi lainnya.

          Dasar adanya stratifikasi sosial adalah adanya barang sesuatu yang dihargai oleh masyarakat. Mereka yang memiliki uang banyak akan mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan, dan mungkin juga kehormatan, sedangkan mereka yang mempunyai kekuasaan besar mudah menjadi kata dan menguasai ilmu pengetahuan.Ukuran atau kriteria yang bisa dipakai untuk menggolongkan anggota-anggota masyarakat kedalam suatu lapisan, yaitu ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan, ukuran kehormatan, ukuran ilmu pengetahuan.

BAB V

PERTENTANGAN-PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Kepentingan ini sifatnya esensial bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. Jika individu berhasil dalam memenuhi kepentingannya, maka ia akan merasa puas, dan sebaliknya kegagalan dalam memenuhi kepentingan ini akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan.

          Perbedaan kepentingan ini antara lain berupa; kepentingan individu untuk memperoleh kasih sayang, harga diri, penghargaan yang sama, prestasi dan posisi, kedudukan di dalam kelompoknya, rasa aman dan perlindungan diri, kemerdekaan diri, dan kepentingan individu untuk dibutuhkan oleh  orang lain.

          Perbedaan kepentingan ini tidak secara langsung menyebabkan terjadinya konflik tetapi mengenal beberapa fase yaitu : pertama fase disorganisasi yang terjadi karena kesalah pahaman (akibat pertentangan antara harapan dengan standar normatif), yang menyebabkan sulitnya atau tidak dapatnya satu kelompok sosial menyesuaikan diri dengan norma (ideologi). Kedua, fase disintegrasi (konflik) yaitu pernyataan tidak setuju dalam berbagai bentuk seperti timbulnya emosi massa yang meluap, protes, aksi mogok, pemberontakan dan lain-lain.

  1. Prasangka dan Diskriminasi

Prasangka dan diskriminasi adalah dua hal yang ada relevansinya. Prasangka bisa diartikan sebagai suatu sikap yang terlampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifat berat sebelah, dan di barengi proses simplifikasi (terlalu menyadarkan) terhadap suatu realita.

   Suatu hal yang saling  berkaitan, apabila seorang individu mempunyai prasangka rasial biasanya bertindak diskriminatif terhadap ras yang diprasangkainya. Tetapi dapat pula yang bertindak diskriminatif tanpa didasari prasangka, dan sebaliknya seorang yang berprasangka dapat saja bertindak tidak diskriminatif. Perbedaan terpokok antara prasangka dan diskriminatif adalah bahwa prasangka menunjukkan pada aspek sikap, sedangkan diskriminatif pada tindakan.

b. Perbedaan Prasangka dan Diskriminasi

Antara prasangka dan diskriminasi dapat dibedakan dengan jelas. Prasangka bersumber dari suatu sikap. Diskriminasi menunjukkan kepada suatu tindakan. Dalam pergaulan sehari-hari sikap berprasangka dan diskriminasi seolah-olah menyatu, tak dapat dipisahkan. Seorang berprasangka rasial, biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yanng di prasangkainya. Walaupun begitu, bisa saja seseorangh bertindak diskriminatif tanpa berlatar belakang pada suatu prasangka. Demikian juga sebaliknya, seseorang yang berprasangka  dapat saja berprilaku tidak diskriminatif.

Pertentangan-Pertentangan Sosial/Ketegangan dalam Masyarakat

Konflik (pertentangan) mengandung suatu pengertian tingkah laku yang lebih luas dari pada yang dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar dan perang. Dasar konflik berbeda-beda. Dalam hal ini terdapat tiga elemen dasar yang merupakan ciri-ciri dari situasi konflik, yaitu: terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau bagian-bagian yang terlibat di dalam konflik, unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhann-kebutuhan, tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasan-gagasan dan terdapatnya interaksi di anatara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut. Konfik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misalnhya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi pada lingkungan yang paling kecil yaitu individu, sampai kepada lingkup luas, yaitu masyarakat.

 

 

 

BAB VI

KEADILAN, KETIDAK ADILAN DAN HUKUM

Pengertian Keadilan dan Ketidak adilan

Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Jika kita mengakui hak hidup kita, maka sebaliknya kita wajib mempertahankan hak hidup dengan cara kerja keras tanpa merugikan orang lain. Hal ini disebabkan oleh karena orang lainpun mempunyai hak hidup seperti kita.

Penratian Hukum

Pada hakekatnya hukum tidak lain adalah perlindungan kepentingan manusia, yang berbentuk kaidah atau norma, karena setiap manusia mempunyai kepentingan, baik yang bersifat individual maupun kolektif.

          Utrecht memberikan definisi bahwa hukum sebagai himpunan peraturan-peraturan (perintah-perintah atau larangan-larangan) yang mengurus tata tertib masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu.

          Menurut J.C.T.Simorangkir, SH dan Woerjono Sastropranoto, SH yang mendefinisikan bahwa hukum sebagai peraturan-peraturan yang memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran manusia terhadap peraturan-peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan, yaitu dengan hukum tertentu.

          Dari uraian tersebut jelas bahwa hukum itu mengatur tingkah laku manusia dan hukum itu hanya terdapat di dalam kehidupan masyarakat manusia dan yang ditujukan pula terhadap kepentingan-kepentingan dan perlindungan terhadap manusia tersebut. Hukum itu timbul apabila ada pertentangan atau bentrok antara kepentingan-kepentingan manusia selama tidak ada “Coflict of Human Interest”.

BAB VII

LEMBAGA KEMASYARAKATAN (LEMBAGA SOSIAL)

Pengertian Lembaga Kemasyarakatan

Lembaga kemasyarakatan merupakan terjemahan langsung dari istilah

Image

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.